Node IF, Switch, dan Merge n8n untuk Logika Bisnis
Di n8n, aturan bisnis seperti “kalau nominal di atas Rp5 juta, minta approval direktur” dibangun dengan tiga node: IF untuk keputusan ya atau tidak, Switch untuk banyak pilihan, dan Merge untuk menggabungkan data dari beberapa jalur. Kalau Anda paham kapan memakai masing-masing, hampir semua SOP bisa diterjemahkan jadi workflow yang rapi.
Artikel ini untuk Anda yang sudah bisa membuat workflow sederhana di n8n, lalu mulai bingung saat aturannya bercabang. Kalau masih benar-benar baru, mulai dulu dari panduan belajar n8n dari nol.
Node IF: keputusan ya atau tidak
Node IF mengecek satu atau beberapa kondisi, lalu mengirim data ke salah satu dari dua output: true atau false. Cocok untuk pertanyaan yang jawabannya hanya dua.
Contoh aturan yang pas untuk IF:
- Apakah status pembayaran sudah “Lunas”?
- Apakah tanggal jatuh tempo sudah lewat?
- Apakah kolom email pelanggan terisi?
- Apakah nominal pengajuan di atas Rp1.000.000?
Anda bisa menggabungkan beberapa kondisi dengan AND (semua syarat harus terpenuhi) atau OR (cukup satu syarat terpenuhi). Misalnya: “status = Belum Bayar AND jatuh tempo sebelum hari ini” untuk mencari tagihan yang terlambat.
Node IF mendukung perbandingan untuk teks, angka, tanggal, boolean (benar atau salah), array, dan object. Pilih tipe yang sesuai. Kesalahan paling umum adalah membandingkan angka yang sebenarnya tersimpan sebagai teks, misalnya “1500000” dari Google Sheets. Aktifkan opsi konversi tipe yang tersedia di node, atau ubah dulu nilainya menjadi angka, supaya perbandingan “lebih besar dari” berjalan benar.
Satu hal lagi: IF memproses setiap item satu per satu. Kalau ada 50 baris tagihan yang masuk, sebagian bisa keluar di jalur true dan sebagian di jalur false dalam satu kali jalan.
Node Switch: banyak cabang sekaligus
Kalau jawabannya lebih dari dua, jangan menumpuk IF di dalam IF. Pakai Switch. Node ini punya banyak output, satu untuk setiap aturan.
Switch punya dua mode:
- Rules: Anda membuat aturan per output. Misalnya output 0 untuk kategori “Komplain”, output 1 untuk “Tagihan”, output 2 untuk “Penawaran”.
- Expression: Anda menulis expression yang mengembalikan nomor output. Cocok kalau aturannya bisa dihitung, misalnya nomor cabang langsung jadi nomor output.
Dua pengaturan yang sering terlupa:
- Fallback Output: menentukan nasib data yang tidak cocok dengan aturan mana pun. Default-nya data diabaikan. Untuk proses bisnis, lebih aman memilih output tambahan (Extra Output) lalu mengirim notifikasi, supaya tidak ada data yang hilang diam-diam.
- Send data to all matching outputs: kalau aktif, satu item bisa dikirim ke beberapa output sekaligus saat cocok dengan lebih dari satu aturan. Kalau tidak aktif, item hanya masuk ke output pertama yang cocok.
Contoh di sebuah jaringan toko: laporan penjualan harian masuk dari form. Switch mengarahkan setiap laporan berdasarkan kolom cabang, Bandung, Surabaya, atau Medan, ke spreadsheet dan penanggung jawab masing-masing.
Node Merge: menggabungkan data
Setelah bercabang, kadang data perlu digabung lagi. Di sinilah Merge dipakai. Node ini punya beberapa mode:
| Mode | Fungsi | Contoh pemakaian |
|---|---|---|
| Append | Menyambung item dari semua input, satu setelah yang lain | Menggabungkan daftar pesanan dari dua marketplace |
| Combine: Matching Fields | Mencocokkan item berdasarkan kolom yang sama, mirip VLOOKUP | Menempelkan data pelanggan ke transaksi berdasarkan ID pelanggan |
| Combine: Position | Memasangkan item berdasarkan urutan | Item ke-1 dengan item ke-1, dan seterusnya |
| Combine: All Possible Combinations | Memasangkan setiap item dengan semua item di input lain | Membuat kombinasi produk dan cabang |
| SQL Query | Menggabungkan input dengan query SQL | Logika gabung yang lebih rumit |
| Choose Branch | Menunggu input lalu meneruskan data dari salah satu input | Memastikan dua proses selesai sebelum lanjut |
Mode Combine by Matching Fields paling sering dipakai di proses bisnis. Contohnya, workflow mengambil daftar invoice belum lunas dari software akuntansi lewat HTTP Request, lalu mengambil data kontak dari Google Sheets. Merge mencocokkan keduanya berdasarkan kode pelanggan, sehingga setiap invoice punya email dan nomor penanggung jawab.
Mode Choose Branch berguna sebagai titik tunggu. Misalnya Anda ingin memastikan data sudah tersimpan ke spreadsheet dan sudah terkirim ke email sebelum workflow menandai tugas selesai.
Pola aturan approval berdasarkan nominal
Sekarang gabungkan ketiganya dalam satu kasus nyata. Contoh aturan pengajuan biaya di sebuah agensi:
- Di bawah Rp1 juta: disetujui otomatis.
- Rp1 juta sampai Rp10 juta: butuh approval manajer.
- Di atas Rp10 juta: butuh approval direktur.
Susunan workflow-nya kira-kira seperti ini:
- Trigger: pengajuan masuk dari form.
- Switch (mode Rules): output 0 untuk nominal di bawah 1.000.000, output 1 untuk nominal 1.000.000 sampai 10.000.000, output 2 untuk nominal di atas 10.000.000. Aktifkan fallback ke output tambahan untuk menangkap nominal kosong atau salah format.
- Output 0: langsung set status “Disetujui”.
- Output 1 dan 2: kirim permintaan approval ke manajer atau direktur, lalu tunggu jawabannya.
- IF: cek jawaban approver, disetujui atau ditolak.
- Langkah akhir: catat hasil ke spreadsheet dan beri tahu pengaju.
Perhatikan langkah 6. Jalur yang berbeda boleh disambungkan langsung ke node yang sama. n8n akan menjalankan node itu untuk setiap jalur yang membawa data. Anda tidak selalu butuh Merge hanya untuk “menyatukan” cabang. Pakai Merge saat datanya memang perlu digabung atau ditunggu.
Aturan approval seperti ini biasanya sudah ada di SOP perusahaan. Kalau SOP-nya masih samar, rapikan dulu dengan panduan di artikel SOP adalah.
Menjaga workflow tetap mudah dibaca
Workflow yang penuh percabangan cepat menjadi ruwet. Beberapa kebiasaan yang membantu:
- Beri nama node dengan jelas. Ganti “IF1” menjadi “Nominal di atas 10 juta?”. Siapa pun yang membuka workflow langsung paham.
- Pakai Switch, bukan IF bertingkat. Tiga IF bersarang lebih sulit dibaca dan dirawat dibanding satu Switch dengan tiga output.
- Simpan angka batas di satu tempat. Taruh nilai seperti 1.000.000 dan 10.000.000 di node Set di awal workflow, lalu rujuk dari situ. Saat aturan berubah, Anda cukup mengubah satu tempat.
- Pakai Sticky Note. Tulis catatan singkat di kanvas yang menjelaskan aturan bisnisnya.
- Selalu tangani jalur “lainnya”. Data yang tidak cocok aturan mana pun harus punya tujuan, minimal notifikasi ke admin.
- Uji dengan data ekstrem. Coba nominal tepat di batas (misalnya persis Rp1.000.000), nilai kosong, dan teks aneh. Batas “lebih besar” dan “lebih besar atau sama dengan” sering tertukar.
Kalau aturan bisnis di tim Anda sudah banyak dan mulai sulit diterjemahkan ke workflow, Aqilatic bisa membantu memetakannya lewat audit proses gratis. Contoh alur approval dan otomatisasi lain ada di bagian contoh penerapan.
Pertanyaan yang sering muncul
Kapan pakai IF dan kapan pakai Switch?
Pakai IF untuk keputusan dengan dua kemungkinan jawaban. Pakai Switch kalau ada tiga pilihan atau lebih, misalnya kategori, cabang, atau rentang nominal.
Apakah setelah IF selalu harus ada Merge?
Tidak. Kalau kedua jalur hanya perlu menuju langkah yang sama, sambungkan saja keduanya ke node berikutnya. Merge dipakai saat data dari beberapa jalur perlu digabung atau ditunggu.
Kenapa perbandingan angka di node IF hasilnya salah?
Biasanya karena nilainya tersimpan sebagai teks, misalnya dari spreadsheet. Pastikan tipe yang dipilih adalah Number dan nilainya sudah berupa angka, atau aktifkan opsi konversi tipe di node.